Jumat, 10 Juli 2015

Lomba Puisi Keempat



KEABADIAN CINTA
(Maulidatur Rohmah Wiryaningsih)

Sengat yang mendera kulit
Membendung asa tanpa ragu
Saat mentari menyapa dunia
Tak pelak menggoyahkan inginku mendaki setumpuk cintanya

Aku gapai puncaknya yang menjulang ke langit
Bersama alam,
aku tunjukkan lambang keabadian
Cinta yang tak akan goyah oleh terpaan angin
Rasa yang tak akan sirna walau banyak bebatuan terjal

Jika boleh aku berharap,
Semoga cinta ini akan terus subur dengan pupuk keharmonisan
Salam hangatku untuk keabadian cinta

(Kebumen, 14 Mei 2015)

Lomba Puisi Ketiga



Menjemput Cinta

Kibasan sayap kesyahduan mengenaiku
Menohok keraguan yang sempat terendus
Rengkuhan kasih membelai ketandusan hati
Dibumbui angan yang sejalan dengan pikiran

Cinta akan menjemputmu penuh ketulusan
Begitupun aku yang bersedia menutup segala celahmu
Jangan isyaratkan kedustaan padaku
Walaupun hanya niatan kalbu

Wahai engkau yang ku sayang
Jika memang takdir yang menjodohkan
Mendekatlah meski membawa banyak kekurangan
Sejatinya, cintalah yang akan menjadikannya kelebihan 

Lomba Puisi Kedua



PUTIH ABU ABU
(Wiryaningsih)
Belaian hangat hari ini menyambutku
Menghentikan alur mimpi yang sempat terlewat di otak
Sedikit taburan bumbu konflik yang mengganjal kalbu
Namun, tetap diiringi suara tawa terbahak bahak

Tak terasa putih abu abu segera terlepas
Pahit, manis telah menjadi kenangan
Saat ini badanku belum ingin terhempas
Sebab, tidak sedikit memori indah yang kelak menyita pikiran

Selamat pagi Pak guru
Selamat siang Bu guru
Sapaan manis yang setiap kali terucap oleh kami
Pastilah beliau membalasnya dengan kelembutan hati

Masa depan telah menanti kedatangan kami
Terimakasih abu abu yang setia mendampingi
Bekal ilmumu telah kami pikul untuk sebuah asa
Salam hangat untukmu yang selalu berjasa

Kamis, 09 Juli 2015

Lomba Puisi Pertama



“Selamat Ulang Tahun Ibu”
(Wiryaningsih)

Selembar kertas bermotif tertumpuk dimejaku
Dibalut dengan warna yang lembut tak begitu mencolok
Seketika aku mendekat dan menyentuhnya
Mataku tak henti henti memandang

Sedikit menoleh kesamping
Ku raih kotak putih yang telah terisi sesuatu
Sambil memegangnya,
pikiranku mulai terbayang satu senyuman cantiknya

Beruntunglah dia
Dia yang ku jadikan panutan
Dia yang ku jadikan kebanggaan

Segera ku bungkus kotak tadi dengan manis
Ku lekatkan tiap tiap sisi pada dinding kotak
Tak lupa secarik ungkapan sayang yang tertuang lewat tinta hitamku
Lalu, ku selipkannya di bagian samping

Tak sabar rasanya segera ku berikan kado ini
Kado yang berisi cinta tulus seorang buah hati
Yang kotaknya dibalut dengan kehangatan kasih
Dan pelekat berupa ciuman mesra dariku.
Aku hanya bisa berucap
Selamat ulang tahun Ibu